BAUBAU–TERASNUSANTARA_Pemerintah Kota Baubau terus berupaya menurunkan stunting dengan berbagai cara setelah sebelumnya melalui Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Dipertan) lewat Program “Kebun Dapur Ibu” (Kedai). Kini giliran Dinas Perikanan berperan, tidak akan hanya menurunkan stunting, namun berusaha meniadakan stunting di Kota Baubau.
Kepala Dinas Perikanan Baubau, Yulia Widiarti menjelaskan untuk mewujudkan rencana besar itu, wanita berhijab ini mengajak warga baubau untuk menggemari ikan sebagai lauknya. Sebab, menurutnya hewan laut tersebut dinilai sumber protein hewani yang tinggi.
“Kita baru saja melakukan kegiatan Gemar Makan Ikan, gerakan memasyarakatkan makan ikan, dimana kegiatan ini bagaimana mensosialisasikan kepada semua masyarakat bagaimana mengkonsumi ikan agar baubau zero stunting,” ,”katanya di temui di tempat kerjanya belum lama ini.
Keyakinan itu didasari, selain ikan mempunyai protein yang tinggi dibandingkan dengan hewani lainnya, ikan mengandung banyak gizi, vitamin, mineral dan juga DHA (docosahexaenoic acid adalah asam lemak yang termasuk dalam kelompok omega-tiga yang umumnya berasal dari salmon dan ikan kod). Apalagi Baubau dinilai penghasil ikan yang banyak dan cukup untuk memenuhi kebutuhan warga.
Sehingga Yulia Widiarti berpendapat sangat ironi jika Baubau salah satu daerah yang cukup tinggi terpapar stunying. Karena itu, pihaknya terus mengkampanyekan program makan ikan yang juga menjadi program nasional. Pihaknya merinci, sejumlah kelurahan yang telah diberikan sosialisasi terhadap Gemar Makan Ikan tersebut, yakni sudah ada sembilan kelurahan, rinciannya, Kelurahan Karya Baru, Kaisabu Baru, Wangkanapi, Kolese, Kantalai, Tampuna, Sulaa, Katobengke dan Kelurahan Lipu.
“Anak-anak khan sekarang mungkin bosan oleh karena sajian yang mungkin hanya parende, pindang, digoreng padahal bisa dibikin naget, dibikin stic untuk cemilan-cemilan, bisa dibikin kue, burger, bisa bikin somai, bakso dan ternyata ikan itu biar puding bisa kita bikin, abon ikan dan bisa diolah dengan berbagai macam olahan, hanya tinggal pintar-pintarnya orang tua kita bagaimana perlakuannya terhadap ikan tersebut,” urainya.
Karenanya, dengan sosialisasi yang dilakukan tersebut bisa mengurangi jumlah stunting bahkan sampai zero stunting. “Disamping itu juga bagaimana supaya mengenalkan jenis olahan kepada masyrakat kita supaya mereka jangan hanya monoton, tapi punya kreatifitas dalam mengolah ikan ini, sehingga menambah minat anak anak atau siapapaun untuk melebihi menyukai konsumsi ikan, karena kita tau nilai gizi dalam ikan sangat besar,” tutupnya.(Zarmin)