Connect with us
blob:https://web.whatsapp.com/ff4b1634-355b-4b4d-a382-481338e87ffb

Advetorial

Disparbud Baubau Merawat Tradisi, Menjaga Warisan, Menguatkan Identitas Budaya melalui Santiago

Published

on

BAUBAU-TERASNUSANTARA_ Pagi di Kamali Kara, Senin 12 Oktober 2026, menghadirkan suasana yang sarat makna. Di antara barisan pasukan adat, bunyi tambur, kibaran bendera kesultanan, dan lantunan doa, tradisi Santiago kembali menghidupkan ingatan tentang perjalanan panjang Kesultanan Buton.

Bukan sekadar prosesi adat, Santiago menjadi ruang pertemuan antara sejarah, spiritualitas, dan penghormatan kepada para leluhur. Tradisi ziarah ke makam para Sultan Buton ini juga menjadi pengingat bahwa identitas Baubau hari ini tidak dapat dipisahkan dari warisan peradaban yang tumbuh dan berkembang selama berabad-abad.

Prosesi Santiago digelar dalam rangkaian peringatan Hari Jadi Baubau ke-485 dan Hari Ulang Tahun ke-25 Kota Baubau sebagai daerah otonom. Melalui kegiatan ini, Pemerintah Kota Baubau bersama Dinas Pariwisata dan Kebudayaan berupaya menempatkan kebudayaan bukan hanya sebagai simbol masa lalu, tetapi juga sebagai bagian penting dalam membangun karakter daerah.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Baubau, Dr. H. Idrus Taufiq Saidi, S.Kom., M.Si., menjelaskan pelaksanaan Santiago menjadi salah satu agenda penting dalam rangkaian peringatan tahun ini.

Menurutnya, memahami sejarah merupakan bagian penting dalam menumbuhkan semangat membangun daerah. Masa kini, kata dia, tidak terlepas dari fondasi yang telah diletakkan para leluhur.

“Bahwa hari ini tidak akan pernah ada kalau cerita masa lalu itu tidak hadir,” ungkap Idrus.

Ia menjelaskan, penetapan Santiago pada 12 Oktober dilakukan melalui koordinasi dengan mempertimbangkan evaluasi pelaksanaan pada tahun-tahun sebelumnya. Tradisi ini sengaja dilaksanakan lebih awal sebelum puncak peringatan Hari Jadi Baubau pada 17 Oktober 2026.

Bagi Idrus, Santiago menjadi momentum untuk mengajak jajaran pemerintah daerah kembali menengok perjalanan sejarah Baubau, sekaligus memanjatkan doa dan rasa syukur kepada Allah SWT atas perjalanan kota hingga memasuki usia ke-25 sebagai daerah otonom.

Menelusuri Jejak Kesultanan Buton

Santiago merupakan tradisi ziarah ke makam para Sultan Buton yang berada di dalam kawasan Benteng Wolio dan sekitarnya. Pada masa Kesultanan Buton, kegiatan ini dilaksanakan setiap 2 Syawal, setelah salat Isya hingga menjelang Subuh.

Karena berlangsung pada malam hari kedua Idulfitri dan diikuti masyarakat serta pejabat kesultanan, tradisi tersebut dikenal pula dengan sebutan Raraya Malo, yang bermakna lebaran pada malam hari.

Perubahan keadaan pada masa pendudukan Jepang membuat waktu pelaksanaan Santiago bergeser menjadi pagi hingga menjelang malam. Meski waktu pelaksanaannya berubah, esensi tradisi untuk menghormati para Sultan dan mendoakan leluhur tetap dipertahankan.

Warisan tersebut kini terus dirawat melalui pelaksanaan prosesi adat yang melibatkan pemerintah daerah, perangkat adat, perangkat Masjid Agung Keraton Buton, serta kelompok pemerhati budaya dan Kelompok Sadar Wisata Kelurahan Melai.

Keterlibatan berbagai unsur ini memperlihatkan bahwa pelestarian budaya tidak dapat berdiri sendiri. Ia membutuhkan kerja bersama agar nilai-nilai yang terkandung di dalamnya tetap dikenal dan dipahami oleh generasi berikutnya.

Dari Kamali Kara, Doa Mengiringi Perjalanan

Rangkaian Santiago dimulai di kompleks Tanailandu, Kamali Kara. Kawasan ini memiliki kedudukan penting dalam sejarah Kesultanan Buton, termasuk sebagai lokasi berdirinya Kamali Bata atau Kamali Masae, yang menjadi istana Sultan Muhammad Umar Qaimuddin, serta Kamali Kara, yang menjadi istana Sultan Muhammad Hamidi Qaimuddin.

Di kawasan bersejarah tersebut, prosesi diawali dengan pembacaan sinopsis Santiago, dilanjutkan pembuatan kabubusi dan penyerahannya kepada Salawatu.

Kabubusi merupakan air yang diberi wewangian, antara lain menggunakan jeruk purut dan bunga kamboja, untuk menyiram makam para Sultan. Salawatu, seorang perempuan yang mengenakan pakaian adat Kombo, bertugas membawa kabubusi dalam prosesi ziarah. Ia berjalan di bawah payung kesultanan yang dibawa oleh Kenipau.

Iring-iringan adat turut menghadirkan Kompanyia, pasukan inti Kesultanan Buton yang terdiri atas 11 regu, dilengkapi tambur atau tamburu dan bendera kesultanan. Barisan lainnya mencakup pembawa tikar, pembawa dupa, jajaran pemerintah daerah, serta kelompok sadar wisata.

Wali Kota Baubau yang diwakili Sekretaris Daerah, unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), kepala organisasi perangkat daerah (OPD), dan peserta prosesi mengambil tempat di Lapangan Kamali Kara sebelum perjalanan dimulai.

Atraksi tari Galangi menjadi bagian penting dalam prosesi. Tarian ini ditampilkan sebagai bentuk penghormatan kepada para Sultan, antara lain di depan istana, masjid, baruga, dan kawasan makam.

Dari Kamali Kara, rombongan bergerak menuju Masigi Ogena atau Masjid Agung Keraton Buton. Di tempat tersebut, perangkat masjid atau para Moji bergabung untuk memimpin doa. Setelah atraksi Galangi, perjalanan dilanjutkan menuju makam Sultan Murhum, kemudian makam Sultan Himayatuddin Muhammad Saidi atau Oputa Yi Koo, pahlawan nasional.

Ziarah berlanjut ke kompleks pemakaman Rakia untuk mengunjungi makam Sultan Qaimuddin dan Sultan Dayanu Asraruddin. Rombongan kemudian kembali ke kawasan Tanailandu untuk menziarahi makam Sultan Malik Sirullah, Sultan Dayanu Ikhsanuddin, Sultan Adilil Rahim, Sultan Syamsuddin, serta Sultan Mulharuddin Abdul Rasyid.

Setiap persinggahan menjadi pengingat akan jejak para pemimpin yang membentuk perjalanan sejarah Buton. Doa yang dipanjatkan dalam prosesi tersebut sekaligus menjadi ungkapan penghormatan dan rasa syukur atas warisan yang masih dapat disaksikan hingga kini.

Merawat Dua Pilar Pemerintahan Kesultanan

Salah satu nilai penting Santiago terletak pada keterlibatan perangkat adat dan perangkat masjid. Bagi Idrus Taufiq Saidi, kehadiran kedua unsur tersebut mencerminkan kesinambungan nilai pemerintahan Kesultanan Buton yang secara umum mengenal Sara Ogena dan Sara Kidina.

Sara Ogena berkaitan dengan pemerintahan kesultanan, sedangkan Sara Kidina merupakan unsur pemerintahan yang menjalankan fungsi keagamaan melalui perangkat masjid.

Menurut Idrus, keberadaan perangkat masjid dalam Santiago bukan sekadar pelengkap seremoni. Mereka memiliki peran penting dalam menjaga dimensi spiritual tradisi, terutama melalui doa dan ungkapan syukur yang mengiringi ziarah.

“Sejak dulu, tugas pokok dan fungsi mereka selalu berhubungan dengan keagamaan dan spiritual,” jelasnya.

Karena itu, kolaborasi antara pemerintah daerah, perangkat adat, perangkat masjid, dan kelompok pemerhati budaya menjadi bagian dari upaya menjaga marwah tradisi. Pelestarian tidak hanya dilakukan dengan mempertahankan bentuk prosesi, tetapi juga dengan menghormati peran setiap unsur yang mewarisi nilai-nilai tersebut.

Budaya sebagai Identitas dan Arah Masa Depan

Lingkungan Tanailandu dan Kamali Kara memiliki arti lebih dari sekadar titik awal Santiago. Kawasan ini juga menyimpan jejak berbagai kegiatan adat Kesultanan Buton, mulai dari tempat berkumpulnya pasukan Kompanyia hingga tradisi membunyikan meriam sebagai penanda datangnya Ramadan dan Idulfitri.

Di tempat ini pula, pada masa lalu, pernah berdiri Zawiah sebagai lembaga pembelajaran agama Islam dan Galampa Tanah sebagai ruang sidang syara Kesultanan Buton.

Kekayaan sejarah tersebut memperlihatkan bahwa warisan budaya Baubau mencakup tata pemerintahan, kehidupan keagamaan, tradisi masyarakat, serta nilai kebersamaan yang berkembang lintas generasi.

Melalui peringatan Hari Jadi Baubau ke-485 dan HUT ke-25 sebagai daerah otonom, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Baubau berupaya menghidupkan kembali pemahaman terhadap warisan tersebut. Santiago menjadi salah satu cara untuk mempertemukan generasi sekarang dengan akar sejarah daerahnya.

Bagi Idrus, semangat menghargai masa lalu perlu menjadi bagian dari kehidupan pemerintahan dan masyarakat. Sejarah bukan hanya untuk dikenang, melainkan juga untuk menjadi sumber pembelajaran dalam menata masa depan.

Santiago akhirnya menghadirkan pesan yang melampaui prosesi ziarah. Di tengah perubahan zaman, masyarakat Baubau diajak untuk tetap mengenali asal-usulnya, menghormati para leluhur, dan menjaga nilai budaya yang menjadi ciri khas daerah.

Dari Kamali Kara, doa dan langkah iring-iringan Santiago kembali menegaskan bahwa kemajuan sebuah kota tidak hanya diukur dari pembangunan fisik, tetapi juga dari kemampuannya merawat ingatan kolektif, menjaga tradisi, dan mewariskan identitas budaya kepada generasi mendatang.(adm)

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advetorial

PWI Apresiasi Kegiatan Gelar Karya Jurnalis SMAN 3 Baubau

Published

on

By

BAUBAU-TERASNUSANTARA_Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Baubau mengapresiasi Gelar Karya Jurnalis yang diadakan SMAN 3 Baubau. Talk Show tersebut bertepatan dengan Hari Pers Nasional 2025.

Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Baubau La Ode Aswarlin menyampaikan, kegiatan ini merupakan sebuah kebanggaan dan patut diapresiasi. Apalagi ini dilaksanakan oleh Sekolah di  Momen Hari Pers Nasional yang diperiingati setiap tanggal 9 Februari.

“Sebagai Ketua PWI Baubau saya sangat bangga dengan inisiatif  para siswa SMA 3 menggelar kegiatan Karya Jurnalis.  Ini merupakan bukti nyata bahwa semangat kebebasan berekspresi dan keinginan untuk mendalami dunia jurnalistik telah meresap sejak usia dini,” kata La Aswarlin.

Ia juga mengapresiasi inisiatif serta dedikasi panitia dan para pendidik yang telah berhasil menciptakan wadah pembelajaran yang inovatif ini. Karena ini dapat menanamkan nilai-nilai integritas, objektivitas, dan keberanian dalam mengungkapkan kebenaran.

“Saya berharap kegiatan ini dapat menjadi inspirasi bagi lebih banyak institusi pendidikan untuk mengembangkan potensi anak-anak bangsa dalam bidang jurnalistik. Semoga semangat Hari Pers Nasional yang tercermin melalui kegiatan ini terus menggelorakan dedikasi kita bersama untuk memajukan pers yang profesional dan bermartabat,” tambahnya.

Apresiasi tidak saja disampaikan Ketua PWI Baubau, namun Ketua PWI Sulawesi Tenggara Sarjono juga turut menyampaikan hal yang sama. Menurut Sarjono, kegiatan ini merupakan hal positif dan sangat edukatif.

“Bagi saya ini sangat positif dan edukatif,” kata Sarjono singkat.

Kepala SMAN 3 Baubau La Ode Mustafa, S.Pd menyampaikan terima kasih atas apresiasi yang diberikan oleh PWI yang merupakan lembaga yang menaungi para jurnalis. Ia berharap para siswa juga mampu menjadi sosok yang cerdas seperti para jurnalis khususnya dalam menyebarkan informasi yang bermanfaat bagi masyarakat.

“Kami sangat bangga dan berterima kasih telah mendapat tanggapan posisif dari PWI sebagai organisasi yang menaungi para Jurnalis. Kami juga mewakili Keluarga Besar SMAN 3 Baubau menyampaikan  Selamat Hari Pers Nasional tahun 2025. Semoga Pers Indonesia makin maju dan memberi inspirasi,” ujar La Ode Mustafa.

Kegiatan gelar Karya Jurnalis dan Edukasi ini adalah salah satu tema yang diprogramkan SMAN 3 Baubau dalam Program Penguatan Profil Pelajar Pancasila.(adm)

Continue Reading
Advertisement

Trending

Copyright © 2017 Zox News Theme. Theme by MVP Themes, powered by WordPress.