Connect with us
blob:https://web.whatsapp.com/ff4b1634-355b-4b4d-a382-481338e87ffb

Opini

Dari Kemasan Sederhana Menuju Pasar Digital: DZ Group Lande Dorong Produk Lokal Naik Kelas

Published

on

Oleh: Tim Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Muslim Buton

BUTON SELATAN – Produk pangan lokal tidak cukup hanya memiliki cita rasa yang baik. Di tengah perubahan perilaku konsumen dan semakin terbukanya pasar digital, kemasan, identitas merek, mutu produk, serta kemampuan memasarkan produk secara daring menjadi bagian penting dari daya saing usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Kondisi inilah yang menjadi perhatian dalam program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Universitas Muslim Buton bersama UMKM DZ Group Lande di Desa Windu Makmur, Kecamatan Sampolawa, Kabupaten Buton Selatan. Program tersebut mengusung tema “Pemberdayaan UMKM DZ Group Lande melalui Diversifikasi dan Inovasi Kemasan Standing Pouch untuk Meningkatkan Penjualan di Marketplace”.

DZ Group Lande merupakan komunitas UMKM kaum muda yang mengembangkan sejumlah produk pangan lokal, antara lain bawang goreng, kripik bawang merah, abon tuna, dan kawone wone. Dalam program ini, pengembangan difokuskan pada bawang goreng dan kripik bawang merah sebagai produk yang memiliki peluang untuk diperkuat nilai tambahnya melalui diversifikasi, inovasi kemasan, dan pemasaran digital.

Kemasan Menjadi Bagian dari Strategi Bisnis

Sebelum program berjalan, mitra memiliki kapasitas produksi sekitar 100–200 kemasan per bulan dengan proses yang masih sederhana dan melibatkan sekitar 3–5 orang pekerja. Produk dipasarkan melalui penjualan langsung dan titip jual di kios atau warung sekitar. Mitra juga pernah mencoba pemasaran melalui marketplace, tetapi belum optimal karena keterbatasan pada kemasan, tampilan produk, foto, deskripsi, serta pemahaman terhadap alur penjualan digital.

Pada sisi produk, bawang goreng dan kripik bawang goreng telah diterima konsumen lokal, tetapi variasi rasa dan ukuran kemasan masih terbatas. Kemasan sebelumnya menggunakan plastik sederhana dan botol 250 mililiter. Identitas merek dan informasi produk juga belum tertata secara optimal. Kondisi tersebut membuat produk kurang menonjol ketika harus bersaing dengan produk sejenis di ruang digital.

Masalah tersebut menunjukkan bahwa peningkatan daya saing UMKM tidak selalu harus dimulai dari perubahan produk yang besar. Perbaikan dapat dimulai dari proses pasca-produksi, pengemasan, branding, dan cara produk ditampilkan kepada calon konsumen.

Standing Pouch, Teknologi Tepat Guna, dan Pemasaran Digital

Program PkM ini menawarkan pendekatan yang mengintegrasikan produksi, pengemasan, dan pemasaran. Pada aspek produksi, mitra diarahkan melakukan diversifikasi produk dan ukuran kemasan serta memperbaiki proses pasca-produksi agar mutu produk lebih stabil.

Teknologi tepat guna yang disiapkan dalam program antara lain mesin peniris minyak, mesin pengiris bawang, rak stainless steel, kompor dua tungku, mesin sealer, serta perangkat pendukung pelabelan. Teknologi tersebut dirancang untuk membantu mitra meningkatkan efisiensi dan konsistensi proses tanpa mengubah karakter usaha sebagai industri rumah tangga.

Pada aspek kemasan, produk diarahkan menggunakan standing pouch ziplock food grade. Desain kemasan disiapkan dalam beberapa ukuran, yaitu 50 gram, 100 gram, dan 250 gram. Kemasan dirancang dengan sistem resealable dan informasi produk yang lebih lengkap sehingga dapat digunakan untuk penjualan langsung maupun distribusi melalui kanal digital.

Pendekatan ini penting karena kemasan bukan sekadar pelindung produk. Kemasan juga berfungsi sebagai media komunikasi merek. Ketika konsumen berbelanja secara daring, foto produk, desain kemasan, informasi, dan kesan profesional menjadi bagian dari pengalaman pertama sebelum konsumen memutuskan membeli.

Marketplace Bukan Sekadar Tempat Memajang Produk

Program juga memberikan perhatian pada kemampuan pemasaran digital. Mitra didampingi untuk memahami bagaimana produk difoto, bagaimana deskripsi produk disusun, serta bagaimana produk ditampilkan di marketplace. Dengan demikian, transformasi digital tidak berhenti pada pembuatan akun, tetapi diarahkan agar kanal digital menjadi bagian dari sistem penjualan.

Target program yang ditetapkan adalah peningkatan harga jual minimal 20–30 persen serta peningkatan kontribusi penjualan online hingga minimal 40 persen dari total penjualan produk yang menjadi fokus program. Target tersebut merupakan sasaran program dan harus dibuktikan melalui perbandingan data sebelum dan sesudah intervensi.

Pemberdayaan Berbasis Lima Tahapan

Pelaksanaan kegiatan dirancang melalui lima tahapan, yaitu sosialisasi dan identifikasi kebutuhan, pelatihan, penerapan teknologi, pendampingan dan evaluasi, serta keberlanjutan program. Pola ini menempatkan mitra sebagai pelaku utama sehingga teknologi dan pengetahuan yang diberikan dapat digunakan secara mandiri.

Pada tahap pelatihan, anggota mitra tidak hanya menerima materi, tetapi diarahkan untuk melakukan praktik. Penerapan teknologi kemudian diikuti pendampingan agar alat, kemasan, pencatatan dan pemasaran benar-benar menjadi bagian dari rutinitas usaha.

Pendekatan partisipatif tersebut menjadi penting bagi UMKM karena keberhasilan program tidak cukup diukur dari jumlah alat yang diberikan atau jumlah peserta yang hadir dalam pelatihan. Ukuran yang lebih bermakna adalah apakah mitra mampu menggunakan teknologi, menghasilkan produk yang lebih konsisten, mengelola kemasan, mencatat penjualan, dan memasarkan produk secara mandiri.

Menghubungkan Hasil Riset dengan Kebutuhan UMKM

Program ini juga memiliki landasan dari hasil riset tim pengusul. Salah satu penelitian tim mengenai kemasan standing pouch, marketplace, dan kualitas produk menunjukkan relevansi kemasan modern dengan peningkatan penjualan produk pangan. Kajian lain yang dilakukan tim juga menyoroti hubungan inovasi produk dan strategi pemasaran dengan minat beli konsumen.

Dengan demikian, pengabdian tidak hanya berupa transfer alat, tetapi merupakan penerapan pengetahuan akademik yang disesuaikan dengan kebutuhan nyata UMKM. Pengetahuan tersebut diterjemahkan menjadi praktik yang sederhana dan dapat diterapkan oleh kelompok usaha di tingkat desa.

Dari Produk Lokal Menjadi Produk Bernilai Tambah

Bagi DZ Group Lande, penguatan kemasan dan pemasaran digital diharapkan membuka ruang pasar yang lebih luas. Produk berbasis komoditas lokal tidak lagi hanya bergantung pada konsumen sekitar, tetapi memiliki peluang untuk diperkenalkan kepada konsumen di luar wilayah melalui kanal digital.

Lebih jauh, program ini diharapkan memperkuat kapasitas kelompok dan membuka peluang keberlanjutan usaha. Peningkatan nilai tambah produk dapat berkontribusi pada peningkatan pendapatan pelaku UMKM, penguatan ekonomi keluarga, serta tumbuhnya kewirausahaan generasi muda di desa.

Namun, peningkatan dampak ekonomi harus dibuktikan secara terukur. Karena itu, tim pengabdian menempatkan pencatatan produksi, penjualan, harga jual, biaya dan pendapatan sebagai bagian penting dari keberlanjutan program. Data tersebut akan menjadi dasar untuk menilai perubahan kondisi usaha secara objektif.

UMKM Naik Kelas Dimulai dari Hal yang Dekat

Pengalaman DZ Group Lande memperlihatkan bahwa inovasi UMKM dapat dimulai dari hal-hal yang dekat dengan aktivitas sehari-hari: memperbaiki proses produksi, menggunakan kemasan yang lebih sesuai, membangun identitas produk, dan belajar menjual melalui kanal digital.

Bagi produk pangan lokal, langkah tersebut bukan sekadar perubahan tampilan. Ia merupakan bagian dari strategi membangun kepercayaan konsumen dan memperluas pasar. Ketika teknologi tepat guna, inovasi kemasan, kemampuan digital, dan kekuatan produk lokal dipadukan, UMKM desa memiliki peluang lebih besar untuk tumbuh secara berkelanjutan.

Program pemberdayaan DZ Group Lande pada akhirnya diarahkan bukan hanya untuk menghasilkan kemasan baru, tetapi membangun kemampuan baru: kemampuan untuk berinovasi, mengelola usaha, membaca pasar, dan menjadikan produk lokal sebagai sumber nilai ekonomi yang lebih kuat.

 

Ucapan Terima Kasih

Tim pelaksana menyampaikan terima kasih kepada Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) atas dukungan pendanaan Program Pengabdian kepada Masyarakat Tahun 2026. Apresiasi juga disampaikan kepada Universitas Muslim Buton, UMKM DZ Group Lande, Pemerintah Desa Windu Makmur.

 

 

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opini

Irama Laut Buton Hilirisasi Ekonomi Biru Berbasis Kearifan Lokal  Dan Teknologi.

Published

on

By

BUTON– TERASNUSANTARA_Indonesia menargetkan Indeks Ekonomi Biru (IBEI) naik dari 60,57 di tahun 2023 menjadi 88,57 pada 2045, menandai ambisi besar dalam memperkuat ekonomi kelautan yang berkelanjutan, sejalan dengan pilar sosial, ekonomi, dan lingkungan.

Pendekatan ekonomi biru yang mengedepankan keberlanjutan ekosistem berpotensi menjadi penyeimbang hilirisasi sektor pertambangan yang disebut sebagai sektor ekstraktif dengan memperhatikan keberlanjutan dan kelestarian sumber daya pesisir sebagai bagian dari pilar-pilar IBEI.

Dalam konteks Forkestra 2025 yang mengusung inovasi, ketahanan, dan keberlanjutan, hilirisasi menjadi langkah strategis untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya laut. Buton memiliki peluang besar untuk mengembangkan model hilirisasi berbasis ekonomi biru yang mengintegrasikan kearifan lokal dan teknologi digital. Dengan demikian, penguatan sektor kelautan tidak hanya soal produksi, tetapi juga tentang pelestarian budaya dan ekologi.

Artikel ini memuat ringkasan umum karya ilmiah yang ditulis Jalita Sri Rahayu Mahasiswa Universitas Muslim Buton Prodi Peradilan Pidana dalam lomba Forkestra yang digelar oleh Bank Indonesia Cabang Sulawesi Tenggara.

Relevan untuk menjawab tantangan degradasi lingkungan, rendahnya nilai tambah produk laut, serta minimnya literasi teknologi di pesisir.

Fakta Kunci hasil perikanan sumber DKP Produksi laut (2023) meliputi:
• Ikan Pelagis: 18,90 ton
• Rumput Laut: 60,17 ton
•Kepiting dan Rajungan: 120.72 ton
• Kerang Mutiara: 188,75 ton
•Hasil Budidaya Lain : 262.24 ton

Menemukan Potensi ekowisata bahari tinggi berbasis konservasi.

Kearifan lokal seperti “sando-sando” dan gotong royong maritim mendukung hilirisasi inklusif sebagai strategi Hilirisasi Buton dalam konteks Forkestra 2025. berikut strategi utama yang diusulkan:

1. Rumah produksi komunal hasil laut
Penguatan ekonomi lokal melalui fasilitas produksi bersama.

2. Branding budaya lokal
Mengusung identitas seperti motif, cerita tradisional, dan nilai “sando-sando” Buton sebagai daya tarik produk.

3. Sertifikasi ekolabel
Menjamin produk laut ramah lingkungan dan menarik segmen pasar global mindful.

4. Digitalisasi pemasaran
Pemasaran via e-commerce dan media sosial untuk menjangkau pasar lebih luas dan modal rendah.

5. Kolaborasi quadruple helix
Sinergi antara pemerintah, akademisi, dunia usaha, dan masyarakat sebagai fondasi bersama.

Dampak dan Manfaat yang Diharapkan:
Pendapatan nelayan dan UMKM meningkat
Nilai tambah lokal lebih kuat, pendapatan kian berdaya.

Pelestarian ekosistem laut Area mangrove, terumbu karang, dan lamun mendapatkan dukungan konservasi kuat.

Regenerasi pelaku ekonomi maritim muda Menumbuhkan generasi baru yang fasih teknologi dan sadar lingkungan.

Penguatan identitas budaya maritim Buton
Membangun citra daerah sebagai pusat ekonomi biru berbasis kearifan dan inovasi.

Penutup yang Menguatkan Posisi Buton

Melalui Forkestra 2025, strategi ekonomi biru Buton dapat diperkuat melalui kolaborasi multi-pihak, pemanfaatan teknologi digital, dan integrasi kelembagaan untuk memperluas pasar global. Pendekatan hilirisasi berbasis hati, budaya, dan alam akan menjadi identitas sekaligus daya saing Buton dalam percaturan ekonomi biru nasional. Dengan menggabungkan inovasi, kearifan lokal, dan komitmen keberlanjutan, Buton berpeluang menjadi model pembangunan maritim yang selaras dengan visi Forkestra 2025: Sulawesi Tenggara berdaya saing global, berakar pada budaya, dan berorientasi pada masa depan berkelanjutan.

Continue Reading
Advertisement

Trending

Copyright © 2017 Zox News Theme. Theme by MVP Themes, powered by WordPress.