Opini

Benarkah AI Dapat Membunuh Kecerdasan Manusia? 

Published

on

Oleh

Hilma Najmi

Siswa kelas 7, PKBM Mainawa Kreativa

Baru-baru ini, Time Magazine merilis penelitian berjudul “Apakah Benar Hasil Penelitian Artificial Inteligen (AI) Dapat Membunuh Kecerdasan Anak?” Di situ di jelaskan bahwa, AI yang salah dan tidak terkontrol dapat “membunuh” atau menumpulkan kecerdasan anak, terutama kemampuan berpikir kritis, kreativitas, dan kemandirian mereka.

Otak anak membutuhkan tantangan untuk berkembang. Jika AI mengambil alih semua proses berpikir tersebut, perkembangan kognitif anak akan terhambat. AI tidak secara fisik membunuh sel otak, tetapi ketergantungan berlebihan pada AI instan dapat mematikan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, dan daya analisis anak karena otak mereka jarang dilatih.

Studi dari MIT Media Lab menunjukkan bahwa pengguna yang terlalu bergantung pada AI generatif mengalami penurunan keterlibatan otak (brain engagement) dan performa kognitif yang signifikan dibandingkan mereka yang berpikir mandiri.

Di Indonesia sendiri, kekhawatiran ini membuat pemerintah mengeluarkan regulasi ketat yang melarang siswa sekolah dasar hingga menengah menggunakan AI instan seperti ChatGPT secara bebas demi mencegah penurunan kemampuan kognitif anak.

Penelitian ini menurut saya penting untuk menjadi perhatian kita semua. Khususnya, pelajar Indonesia. Sekarang banyak orang yang bergantung kepada AI. Dan karena adanya AI, orang jadi malas untuk berpikir kritis, berpikir kreatif, atau berkreasi memakai imajinasinya sendiri.

Kebanyakan orang meminta bantuan AI untuk membuat atau menjawab sesuatu. Karena itu, mereka menjadi lebih malas untuk berpikir menggunakan otaknya untuk berkreasi dan berimajinasi sendiri.

AI bisa digunakan dengan bijak. Ini pengalaman di sekolah saya: PKBM Mainawa Kreativa. Di mata pelajaran Literasi Digital, kami dilatih membuat poster menggunakan Canva. Kalau di Canva atau aplikasi editor yang lainnnya, biasanya kami harus bikin ide dulu, baru mengatur sendiri. Mulai dari mengedit gambar, mengatur huruf-huruf, kontrasnya, warnanya, maupun templatenya sampai sesuai dengan apa yang kami mau. Sedangkan kalau di AI, kita tinggal ketik prompt atau tema yang kita mau secara instan dan gampang.

Sebaiknya manusia di jaman sekarang harus membatasi penggunaan AI dengan bijak. Agar kita terbiasa mengasah otak kita untuk selalu berpikir kreatif ataupun kritis. Ingat, tidak semua hal harus menggunakan AI. Jika terbiasa menggunakan AI secara berlebihan atau terus menerus, lama kelamaan otak kita tumpul karena malas berpikir. Otak itu seperti otot, kalau tidak dipakai jadi lemah.

Di samping itu, penggunaan AI membutuhkan banyak sumber daya, terutama listrik. Semakin besar model AI yang digunakan, semakin banyak alur kerja yang diperlukan. Hal ini membuat konsumsi energi makin meningkat. Makin besar juga jejak energinya jika dipakai terus menerus. Data pribadi kita juga, ikut terpakai untuk latih AI.

Singkatnya, manusia sekarang seharusnya bisa hidup tanpa tergantung AI. Supaya lebih mandiri untuk berpikir. Pelajar pada khususnya harus menggunakan AI dengan bijak, dan tidak ketergantungan. Agar otak dilatih untuk berpikir keras, berpikir kritis, bijak, dan kreatif.

Stefania Giannini, pejabat senior PBB dalam bidang pendidikan mengatakan, AI tidak boleh mengambil alih kecerdasan manusia.

Ya, saya setuju dengan itu. AI tidak boleh membunuh kecerdasan manusia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Trending

Copyright © 2017 Zox News Theme. Theme by MVP Themes, powered by WordPress.